Suatu hari, ada salah satu muridnya bertengkar hebat dan nyaris beradu fisik pada saat ia berbelanja di pasar.
Pasalnya sang murid ingin membeli kurma, harga 1 kg kurma adalah 2 dinar dan ia ingin membeli 6 kg kurma. Sehingga iapun membayar senilai 12 Dinar. (mata uang saat itu)
Tapi kata si penjual salah, uangnya kurang, menurutnya ia harus membayar 14 Dinar.
Si penjual menjelaskan kalau 1 x 2 x 6 = 14
Dengan susah payah, si Murid menjelaskan berkali-kali bahwa
1 X 2 X 6 itu sama dengan 12 dan bukan 14.
Namun betapapun si murid berusaha menjelaskan, si penjual di pasar tetap ngotot bahwa jumlah yang harus di bayar adalah 14 Dinar.
Si penjual tersebut akhirnya menantang murid pandai untuk meminta Ibnu Abdul Jabbar sebagai juri siapa yg benar diantara mereka.
Si penjual pasar mengatakan :
"Jika saya yang benar, maka engkau harus mau dicambuk 10 kali oleh Ibnu Adbul Jabbar.
Tetapi kalau kamu yang benar, maka saya bersedia kepala saya di penggal.
Haaaaaa...hhaa.." Demikian si penjual pasar menantang dengan sangat yakin akan pendapatnya. Disaksikan oleh orang satu pasar.
"Wahai Ibu Abdul Jabbar yang bijak dan pandai tolong katakan, mana yang benar diantara kita?" ujar si penjual pasar pada sang Ahli Matematika.
Ternyata Ibnu Abdul Jabbar memvonis cambuk 10X bagi muridnya yang menjawab (1 x 2 x 6 = 12)
Si murid pun protes. Sang Guru karena ia tahu betul gurunya juga tahu bahwa jawabnnyalah yang benar.
Ibnu Abdul Jabbar pun menjawab,
Ketahuilah muridku, "Hukuman ini bukan untuk hasil hitunganmu, tapi untuk keTIDAK BIJAKkan mu yang mau-maunya berdebat dan bertengkar dengan orang bodoh yang tidak tahu kalau 1 x 2 x 6 = 12"
Guru melanjutkan : "lebih baik melihatmu dicambuk dan menjadi sadar dan lebih bijak dari pada kita harus melihat 1 nyawa terbuang sia-sia karena sebuah KEBODOHAN DARI ORANG YANG TIDAK MUNGKIN BISA DI UBAH LAGI".
Salah satu pesan moral yang mungkin bisa kita petik adalah:
Jika kita sibuk memperdebatkan sesuatu yang tidak berguna dengan orang yang tidak paham, berarti kita juga sama salahnya atau bahkan lebih salah dari pada orang yang memulai perdebatan, sebab dengan sadar kita membuang waktu dan energi untuk hal yang tidak perlu.
Orang-orang semacam ini hadir dengan komentarnya bukan untuk membuat diri belajar menjadi lebih paham dan mengerti tentang kebenaran, melainkan hanya sekedar ingin Eksis dan agar terlihat pintar dan paham saja. Padahal yang terjadi justru sebaliknya, dia tidak paham itulah mengapa ia berdebat.
Ada saatnya kita diam, untuk menghindari perdebatan/pertengkaran sia-sia.
Ingat! Diam bukan berarti kalah, bukan? Diam untuk menjadi lebih bijak dan paham.
Memang bukan hal yang mudah, tetapi jangan sekali-kali berdebat dengan orang bodoh yang tidak menguasai permasalahan.
Dan semoga kita bisa menjadi lebih bijak.
Si penjual tersebut akhirnya menantang murid pandai untuk meminta Ibnu Abdul Jabbar sebagai juri siapa yg benar diantara mereka.
Si penjual pasar mengatakan :
"Jika saya yang benar, maka engkau harus mau dicambuk 10 kali oleh Ibnu Adbul Jabbar.
Tetapi kalau kamu yang benar, maka saya bersedia kepala saya di penggal.
Haaaaaa...hhaa.." Demikian si penjual pasar menantang dengan sangat yakin akan pendapatnya. Disaksikan oleh orang satu pasar.
"Wahai Ibu Abdul Jabbar yang bijak dan pandai tolong katakan, mana yang benar diantara kita?" ujar si penjual pasar pada sang Ahli Matematika.
Ternyata Ibnu Abdul Jabbar memvonis cambuk 10X bagi muridnya yang menjawab (1 x 2 x 6 = 12)
Si murid pun protes. Sang Guru karena ia tahu betul gurunya juga tahu bahwa jawabnnyalah yang benar.
Ibnu Abdul Jabbar pun menjawab,
Ketahuilah muridku, "Hukuman ini bukan untuk hasil hitunganmu, tapi untuk keTIDAK BIJAKkan mu yang mau-maunya berdebat dan bertengkar dengan orang bodoh yang tidak tahu kalau 1 x 2 x 6 = 12"
Guru melanjutkan : "lebih baik melihatmu dicambuk dan menjadi sadar dan lebih bijak dari pada kita harus melihat 1 nyawa terbuang sia-sia karena sebuah KEBODOHAN DARI ORANG YANG TIDAK MUNGKIN BISA DI UBAH LAGI".
Salah satu pesan moral yang mungkin bisa kita petik adalah:
Jika kita sibuk memperdebatkan sesuatu yang tidak berguna dengan orang yang tidak paham, berarti kita juga sama salahnya atau bahkan lebih salah dari pada orang yang memulai perdebatan, sebab dengan sadar kita membuang waktu dan energi untuk hal yang tidak perlu.
Orang-orang semacam ini hadir dengan komentarnya bukan untuk membuat diri belajar menjadi lebih paham dan mengerti tentang kebenaran, melainkan hanya sekedar ingin Eksis dan agar terlihat pintar dan paham saja. Padahal yang terjadi justru sebaliknya, dia tidak paham itulah mengapa ia berdebat.
Ada saatnya kita diam, untuk menghindari perdebatan/pertengkaran sia-sia.
Ingat! Diam bukan berarti kalah, bukan? Diam untuk menjadi lebih bijak dan paham.
Memang bukan hal yang mudah, tetapi jangan sekali-kali berdebat dengan orang bodoh yang tidak menguasai permasalahan.
Dan semoga kita bisa menjadi lebih bijak.

No comments:
Post a Comment